Komponen Penting Dalam Desain Tangga

Tangga tersusun atas beberapa bagian yang sebaiknya diperhitungkan secara seksama agar dapat berfungsi dengan baik. Kelalaian dalam merencanakan bagian-bagian tangga dapat mengakibatkan tangga kurang nyaman untuk dilalui, bahkan membahayakan. Berikut adalah komponen yang harus diperhatikan dalam desain tangga.

1. Anak Tangga

Anak tangga adalah bagian yang kita injak saat naik dan turun tangga. Pada prinsipnya, anak tangga berdiri atas pijakan dan tanjakan. Pijakan merupakan bidang horisontal yang diinjak ketika menaiki tangga, sementara tanjakan adalah jarak vertikal antara anak-anak tangga. Tanjakan tidak melulu berupa bidang solid seperti papan vertikal antara dua bidang pijakan. Tinggi tanjakan ideal berkisar antara 15-18 cm, sedangkan lebar pijakan berkisar 27-30 cm. Sebagai komponen tangga yang selalu dilalui, permukaan pijakan sebaiknya tidak terlalu licin karena bisa membahayakan pengguna, juga sebaiknya dibuat tidak bersudut lancip. Untuk keamanan, biasanya terdapat stopper di ujung anak tangga yang terbuat dari karet atau keramik beralur.

2. Ibu Tangga

Ibu tangga merupakan tempat bertumpunya anak tangga sehingga menjadi penyangga beban utama. Profil ibu tangga bisa tertutup atau terbuka. Pada tangga tertutup, ibu tangga berbentuk seperti garis lurus yang menutupi bidang anak tangga jika dilihat dari samping. Sementara pada ibu tangga yang terbuka, bentuk profilnya mengikuti alur pijakan dan tanjakan anak tangga. Tinggi ibu tangga umumnya berkisar antara 12 – 20 cm. Desain ibu tangga bermacam-macam dan menyesuaikan dengan bentuk tangga secara keseluruhan. Pada tangga rangka baja dengan pijakan kayu, misalnya, ibu tangga dapat diletakkan di kedua sisi pijakan sehingga bagian tengahnya terbuka, atau di tengah dengan struktur kantilever sehingga menimbulkan kesan semi-melayang.

3. Bordes

Menaiki tangga yang terlalu panjang tentu melelahkan, oleh karena itu disarankan setidaknya setiap 10 atau 15 anak tangga disediakan bordes untuk beristirahat atau menarik nafas. Bordes ialah bidang datar pada tangga yang memungkinkan kaki melangkah normal sebanyak dua atau tiga kali sebelum kembali menaiki atau menuruni anak tangga berikutnya. Pada tangga berbentuk L, bordes hadir dalam bentuk bujur sangkar. Sementara pada tangga berbentuk U, umumnya bordes berbentuk persegi panjang. Lebar bordes minimal sama dengan lebar tangga, atau sekitar 90-120 cm pada bangunan hunian.

4. Pegangan Tangga (Railing)

Untuk menunjang kenyamanan, railing harus dibangun dengan konstruksi yang kokoh dan stabil serta kuat menahan beban sandaran. Railing yang nyaman hendaknya memperhatikan faktor ergonomis dan ukuran tubuh manusia. Tinggi railing yang nyaman sebaiknya 90 – 100 cm dari permukaan anak tangga. Pemilihan bentuk railing yang tepat dapat mendukung keindahan tangga. Baik berbentuk persegi, pipih, hingga kurva atau lingkaran, pilih railing yang tidak bersudut sehingga nyaman digenggam dan tidak berbahaya. Material yang dapat dipilih pun beragam : kayu, besi, maupun baja. Letak railing selain disandarkan pada dinding dapat juga bersandar pada baluster atau birai. Tangga eksterior biasanya tidak memerlukan railing karena jumlah anak tangga yang sedikit dengan ukuran yang lebih lebar. Namun, pada rumah berhalaman luas dan berkontur tinggi sehingga diperlukan lebih dari tiga anak tangga, maka tangga eksterior diperlukan untuk mengurangi resiko tergelincir karena cuaca, seperti hujan atau salju.

5. Baluster (Birai)

Baluster merupakan bagian tegak lurus terhadap bidang lantai yang menyangga railing dan berfungsi sebagai penghalang pada bagian tangga yang terbuka ke void. Baluster dapat berupa serangkaian sirip-sirip vertikal atau horisontal dari material logam, kayu, kawat baja, hingga bambu ; bisa juga berupa penghalang kaca atau sandaran masif dari beton atau batu bata. Sebagai variasi, kini baluster kerap hadir dalam bentuk rangka vertikal yang memanjang dari anak tangga hingga balok lantai atas, sehingga dapat menghilangkan elemen pegangan tangga namun tetap aman. Komponen ini amat penting bagi keamanan pengguna, terutama pada rumah tinggal yang dihuni oleh anak-anak dan lansia. Maka dari itu, jarak antar pengisi baluster sebaiknya tidak terlalu renggang.

(Disadur dari buku Home Stairs Indoor and Outdoor karya IMAJI)